BERJUANG TANPA LELAH---CIPTAKAN RUANG PASAR TANPA PESAING DAN BIARKAN KOMPETISI TAK LAGI RELEVAN (KIM & MAUBORGNE)"

Jumat, 27 Februari 2009

Apakah Lingkungan Kerja Anda Mempengaruhi Produktivitas Kerja Anda ?

HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI ORGANISASI DAN LINGKUNGAN KERJA FISIK DENGAN KEPUASAN KERJA DAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN LAPAS KLAS IIA NARKOTIKA CIPINANG JAKARTA

By. Edward-33

Manusia merupakan unsur terpenting dalam organisasi, karena manusia adalah pelaku organisasi yang menjalankan dan mengendalikan jalannya organisasi. Sedangkan alat-alat dan perlengkapan lain dalam organisasi hanya merupakan instrumen yang dikendalikan manusia. Oleh karena itu, sangat penting bagi sebuah organisasi untuk memberikan perhatian kepada karyawan agar dapat menghasilkan kinerja sesuai dengan harapan. Pada kenyataannya, tidak semua karyawan mampu produktif sesuai dengan yang diharapkan organisasi. Hal ini disebabkan karena setiap individu memang memiliki kapasitas pribadi yang tidak sama. Selain itu, adanya pengaruh dari komunikasi organisasi dan lingkungan kerja fisik sangat menentukan produktivitas seseorang. Lingkungan kerja fisik yang buruk dan komunikasi organisasi yang tidak kondusif cenderung akan membuat karyawan kurang termotivasi untuk menunjukkan produktivitas yang lebih baik.

Dalam penelitian ini ada dua pertanyaan penelitian yang hendak dijawab yaitu bagaimana hubungan antara komunikasi organisasi dan lingkungan kerja fisik terhadap kepuasan kerja serta bagaimana hubungan antara kepuasan kerja dengan produktivitas kerja karyawan pada Lapas Klas IIA Narkotika Jakarta. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan menggunakan kuesioner. Sampel yang diambil sebanyak 100 responden dari total 178 populasi yang ada. Teknik analisis data menggunakan memanfaatkan perangkat SPSS 12 for windows dan LISREL 8.3.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa komunikasi organisasi, lingkungan kerja fisik, kepuasan kerja dan produktivitas kerja karyawan Lapas Klas IIA Narkotika Cipinang Jakarta dapat dikategorikan baik. Sementara berdasarkan hasil analisis model menggunakan LISREL 8.3 menunjukkan bahwa model analisis awal tidak fit sehingga tidak bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan dan hipotesa penelitian. Untuk itu diajukan dua model analisis alternatif, yaitu alternatif I menunjukkan bahwa model memiliki cdmin/df lebih besar dari 2, nilai Chi-Square sebesar 34.96, nilai p = 0,00629, RMSEA = 0,103, GFI = 0,92, AGFI = 0,83, IFI = 0,95 dan CFI = 0,94. Dari model ini menunjukkan bahwa variabel komunikasi organisasi merupakan prediktor dari kepuasan kerja, sedangkan kepuasan kerja merupakan prediktor dari produktivitas kerja. Sedangkan alternatif model II diperoleh suatu model yang memiliki kriteria fit. Model tersebut memiliki nilai cdmin/df lebih besar dari 2, nilai Chi-Square sebesar 6,49, nilai p = 0,59212, RMSEA = 0,000, GFI = 0,98 , AGFI = 0,94, IFI = 1,01 DAN CFI = 1,00. Dari model ini menunjukkan bahwa komunikasi organisasi yang baik akan semakin meningkatkan produktivitas kerja.

Dari hasil jawaban responden dapat diketahui bahwa hubungan komunikasi organisasi dengan kepuasan kerja dan produktivitas kerja tergolong kuat, oleh karena itu Lapas Klas IIA Narkotika Cipinang Jakarta perlu meningkatkan efektivitas komunikasi dalam organisasi, selain itu juga pentingnya membina komunikasi yang baik dengan stake holder diluar institusi yang akan terus meningkatkan produktivitas kerja karyawan yang menyatu menjadi produktivitas organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja dan produktivitas kerja pada Lapas Klas IIA Narkotika Cipinang Jakarta. Hal ini membuktikan bahwa untuk institusi lapas, dibangunnya gedung baru dengan fasilitas dan tingkat keamanan yang baik tidak menjamin meningkatnya kepuasan kerja dan produktivitas kerja karyawannya.

Hubungan komunikasi organisasi dengan kepuasan kerja pada Lapas Klas IIA Narkotika Cipinang Jakarta tergolong sangat kuat. Untuk itu perlu dibina, dipupuk dan ditingkatkan rasa kebersamaan, rasa memiliki serta kebanggaan akan organisasi sehingga tercipta suasana kerja yang sehat dan produktif.Untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan Lapas Klas IIA Narkotika Cipinang Jakarta yang optimal perlu ditingkatkan efektivitas komunikasi dalam organisasi baik secara vertikal, horizontal maupun diagonal, perlu banyak memberikan kesempatan kepada karyawan/bawahan untuk mengeluarkan ide-ide dan gagasannya, arahan kepada karyawan agar menggunakan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat, menggunakan biaya secara efisien dan efektif serta melaksanakan tugas sesuai dengan target waktu yang ditentukan. Kondisi ini akan memunculkan sikap saling menghargai dan memahami antar atasan dan karyawan, sesama atasan dan sesama karyawan yang mendukung peningakatan produktivitas kerja.


English Version :


THE RELATION OF COMMUNICATION OF ORGANIZATION AND PHYSICAL JOB ENVIRONMENT WITH JOB SATISFACTION AND PRODUCTIVITY OF THE OFFICER IN IIA CLASS DRUGS DETENTION CENTER CIPINANG JAKARTA


Human is the most important things in organization because human being is the actor in organization who run and manage the direction of it. Other tools and equipments in organization become an instrument controlled by human. For that reason, it is important for organization to give attention on employee to perform well. In fact, not all of the employee can perform well as expected. It is because every individual has different individual capacity. Besides, the influence of organizational communication and physical job environment determine individual’s performance. Terrible physical job environment and organizational communication which are not conducive will make employee do not have good motivation to perform well.

In this research there are two research questions that will be answered, which are how is the relation between communication of organization and physical job environment with job satisfaction and how is the relation between job satisfaction with job productivity of the employee in IIA Class Drugs Detention Center Jakarta. The method which is used is survey with questionnaire. Sample which is chosen is 100 respondents from total population of 178. To analyze the data, SPSS 12 for windows and LISREL 8.3 are applied.

Base on the result of the research, it is found that organizational communication, physical job environment, job satisfaction and productivity of the employee in IIA Class Drugs Detention Center can be categorized as good. Meanwhile, base on model analysis using LISREL 8.3, it is found that initial model analysis is not suitable, hence it cannot be used to answer question and research hypotheses. For that reason, it is proposed two alternative analyses, which are first alternative that show that the model has cdmin/df bigger than two, the value of Chi-square is 34.96, the value of p is 0.00629, RMSEA is 0.103, GFI is 0.92, AGFI is 0.83, IFI is 0.95, and CFI is 0.94. The model shows that communication of organizational variable is the predictor for job satisfaction, and job satisfaction is the predictor of job satisfaction.

The second alternative model is taken from a model which has suitable criteria. The model has the value of cdmin/df bigger than 2, the value of Chi-square is 6.49, p value is 0.59212, RMSEA is 0.000, GFI is 0.98, AGFI is 0.94, IFI is 1.01, and CFI is 1.00. The model shows that good organizational communication will increase job productivity.

From respondent’s answers it can be known that the relation between organizational communication with job satisfaction and productivity is strong. For that reason, IIA Class Drugs Detention Center should increase effective communication in the organization. Besides, it is also important to develop good communication with stake holder outside the center that will constantly raise employee’s productivity. The result also shows job environment do not give significant influence on job satisfaction and productivity. It is proven that for the center, a new building with its facilities and maximum security level does not guarantee the rise of job satisfaction and productivity of the employee.

The relation of communication of organizational and job satisfaction is categorized very strong. Therefore, it should be develop, flourish, and lush the in-group, ownership and pride on the organization so the environment of pleasant and productive will be shaped. To optimize the optimum productivity, the effective communication must be improved in the organization vertically and horizontally. Lower level employee should be given a chance to explore their ideas and they must be directed to use their time for useful activities. They also should be engaged to use budget efficiently and effectively and do their job right on time. This situation will develop respectful and mutual understanding between functionaries and employees, among the functionaries and among the employee which support the rise of job productivity.

Apakah Benar Adanya Uang Tunai Beredar di Lapas Menjadi Sebab Terjadinya Transaksi Narkoba ?

Pelaksanaan Mekanisme Bebas Peredaran Uang (BPU) Dalam Rangka Mencegah Peredaran Narkoba di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Salemba Jakarta

By. Edward-33


Fenomena peredaran uang di Lembaga Pemasyarakatan secara formal tidak dilarang. Walaupun hal itu tidak secara nyata-nyata diatur dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan. Hal ini berbeda dengan bunyi Reglemen Penjara pasal 27, yang intinya melarang adanya hubungan keuangan antara penghuni Penjara dengan pegawai. Oleh sebab itulah setiap penghuni diwajibkan menitipkan uang/barangnya melalui Register D. Setiap kebutuhan penghuni terutama untuk menambah sedap-sedapan, di akomodasikan melalui regulasi pengelolaan register ini. Dengan cara dilayani oleh petugas secara kelembagaan, tidak dilayani oleh petugas secara perorangan. Namun walaupun secara formal aturan ini tidak diadopsi oleh peraturan yang sekarang ada, akan tetapi dipercaya, bahwa peredaran uang di dalam Lembaga Pemasyarakatan/Rutan selalu menjadi “biang kerok” terjadinya gangguan keamanan akibat adanya kolusi antara penghuni dengan petugas. Oleh karena itulah peredaran uang di dalam Lembaga Pemasyarakatan/ Rutan, dilarang.

Dalam penelitian ini ada dua pertanyaan penelitian yang hendak dijawab yaitu bagaimana pelaksanaan mekanisme Bebas Peredaran uang (BPU) serta hubungannya untuk mencegah peredaran narkoba di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Salemba serta kendala dan upaya dalam pelaksanaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan yuridis, Teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan dan studi lapangan, sementara lokasi penelitian adalah Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA salemba Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa pelaksanaan mekanisme Bebas peredaran Uang (BPU) di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Salemba Jakarta terlaksana dengan baik, menggunakan buku tabungan dan kupon BPU. Mekanisme dan program ang dijalankan tertata dengan baik walaupun belum memasukkan unsur teknologi dalam pelaksanaan programnya. Dalam hal pencegahan peredaran narkoba di dalam lapas, mekanisme BPU menunjukkan efektivitasnya, yaitu dengan tidak adanya uang tunai beredar di dalam lapas, maka transaksi narkoba tidak akan terlaksana. Mekanisme Bebas Peredaran Uang tetap memerlukan dukungan semua unsur terkait di dalam lapas khususnya petugas pengamanan lapas.

Pelaksanaan mekanisme Bebas peredaran uang (BPU) di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA salemba Jakarta telah efisien dan efektif mencegah peredaran narkoba di dalam lapas, hal ini didukung oleh organisasi yang relatif masih baru namun demikian tingkat resistensi terhadap kegagalan program masih tinggi. Untuk itu diperlukan komitmen yang tegas dari segenap unsur di dalam Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Salemba Jakarta untuk terus menjaga dan melaksanakan program unggulan tersebut. guna mengetahui apakah suatu kebijakan yang telah dikeluarkan itu mencapai sasaran yang sudah ditentukan, maka perlu adanya pemantauan (monitoring). Pemantauan meliputi empat fungsi yaitu eksplanasi, akuntansi, pemeriksaan dan kepatuhan.


English Version :

The phenomenon of money circulation in the correctional facility is not formally prohibited. Although it is not positively regulated in Law No. 12 Year 1995 About Pemasyarakatan. This is different from the sound of prison Reglemen article 27, which essentially prohibits the financial relationship between the prison with the employees. That's why it's required to check each of the money / goods through register D. Each needs to increase, especially the food, carried out through the regulation of this register. With the way the staff served by institutions, not served by an individual officer. However, although a formal rule is not adopted by the regulations that now exist, but trusted that the money in circulation in the penitentiary / Rutan always be "currycomb ringleader" of a disruption due to the security of the collusion between the officials. Because that is the currency in circulation in the penitentiary / Rutan, is prohibited.

In this research, two research questions that would be the mechanism that is how the implementation of free circulation of money (BPU) and related drugs to prevent the circulation in the correctional facility Klas IIA Salemba and constraints and efforts in its implementation.Research methods used are legal research methods with normative juridical approach, Engineering, data collection through the study of literature and field studies, while the location of the research is penitentiary Klas IIA Salemba Jakarta. Based on the results of research they found that the mechanism for the implementation of free circulation Money (BPU) in the penitentiary Klas IIA Salemba Jakarta done well, using the savings and book coupons BPU. The mechanism and the program is running well despite not include elements of technology in the implementation of the program. In the case of the prevention of drug circulation in the correctional facility, the mechanism shows the effectiveness BPU, with the absence of cash circulating in the correctional facility, the transaction will not materialize drugs. Free Money circulation mechanism still need the support of all relevant elements in the correctional facility staff, especially security correctional facility.

Implementation mechanism Free circulation of money (BPU) in the penitentiary Klas IIA Salemba Jakarta has efficiently and effectively prevent the circulation of drugs in the correctional facility. This is supported by organizations that are still relatively new but high resistance against the failure of the program is still high. It is necessary for a firm commitment from all elements in the correctional facility Klas IIA Salemba Jakarta to continue to maintain and implement the program is excellent. in order to determine whether a policy that has been issued for the specified target, the need to monitor the (monitoring). Four functions include monitoring the ecsplanating, accounting, inspection and compliance.